Archive Pages Design$type=blogging

Pandemi Corona; Antara Emosi, Politik, Takdir dan Konspirasi Menghancurkan Sendi-sendi Islam

Pertama terkait banyak pertanyaan santri via WA tentang corona ini. Banyak yang WA ke Saya, bahwa ini adalah konspirasi agar ummat menjauhi ...

Pertama terkait banyak pertanyaan santri via WA tentang corona ini. Banyak yang WA ke Saya, bahwa ini adalah konspirasi agar ummat menjauhi masjid. Bahwa ini adalah skenario untuk menghancurkan sendi-sendi kekuatan Islam.

Baik, saya ijin urai pelan-pelan.

Perlu diketahui dan insyaAllah ini valid. Bisa di cross cek ke expert yang menguasai virus. Bahwa corona pada generasi muda 80% hanya menimbulkan gejala ringan. Jadi ketika menjangkit, yang illness sakit cukup parah sekitar 20%, dan death rate nya di 5-7%. Data ini masih naik turun. Ada yang nenyatakan 3%.

Sehingga bagi yang muda dan imunitasnya baik, insyaAllah bisa melalui masa inkubasi virus hingga terbentuk antibodi yang menyerang corona itu sendiri. Mudah-mudahan. Mari jaga kesehatan.

Yang menjadi sorotan para ilmuwan dan pakar virus adalah kecepatan sebar nya. Jika penyebarannya cepat, maka angka 20% dari yang terjangkit akan meningkat tajam.

Terjangkit 10 juta populasi, 2 juta butuh perawatan. Lalu kamar rumah sakitnya mana?

Ada BOR. Bed Occupancy Rate. Kalo rumah sakitnya gak cukup, perawatan akan dilakukan di tenda-tenda darurat seperti di Italy. Pasien ditaruh di barak.

Bahkan rumah sakit akhirnya memilih mana yang harus diselamatkan terlebih dahulu. Itu Itali. Konon perawatan kesehatannya free dan terbaik dunia.

Kalo kejadian di kita gimana? Apa gak jadinya yang berani bayar yang bisa dapat bed? Wallahualam.

Ingat, corona ini sensitif pada manula di range 50 tahun keatas. Apa gak kasihan sama orang-orang tua kita kalo gak kebagian bed.

Belum lagi tenaga medis yang harus berjuang dengan antrian pasien segitu banyak. Coba cek tenaga medis di negeri ini. Anda akan ketemu angka sekian banding sekian. Coba dilogikan saja. Search aja data validnya. Monggo.

Maka disinilah kita membutuhkan urgensi untuk menahan kecepatan lonjakan pengidap virus. Dengan social distancing. Karantina mandiri. Menjauhi dan meniadakan kerumunan. Walau gak ada jaminan gak kena. Tapi setidaknya kita lambatkan, agar Rumah Sakit punya jeda antar pasien.

Kembali ke Fatwa MUI untuk ibadah kita ummat Islam. Yang pertama harus diingat, yang berfatwa insyaAllah ahli Ilmu. Kita gak ada seujung kuku nya. Hati-hatilah kita sebagai anak muda, dalam menafsirkan 1 ayat saja, ahli ilmu membaca banyak literatur. Jangan pakai nafsu.

Rasulullah shallallahu'alaihi wassalam minta kita ikuti sunnah Khulafaur Rasyidin. Silakan cari literaturnya. Mumpung bisa banyak di rumah kan, silakan cari.

Di masa Khalifah Umar Ibn Khattab, Ummat Islam nenghadapi wabah besar di Amawas Palestina. 17 H, 639M.

20 ribuan sahabat mulia meninggal dunia. InsyaAllah syahid karena wabah.

Maka Umar Radhiyyllahu'anhu memanggil sahabat mulia Amru bin 'Ash. Sosok cerdas dalam kekhalifahan. Memang tugasnya mikir yang sulit-sulit. Staff ahli khalifah.

Maka Amru Bin Ash mikir beberapa hari, hingga analisanya membuahkan sebuah simpulan sederhana,

Amru bin Ash minta kaum muslimin "berpisah". Masing-masing. Jangan ngumpul.

Maka kaum muslimin berpencar untuk mengasingkan diri masing-masing. Ajaib. Dalam beberapa hari, wabah selesai.

Itu sunnah Khulafaur Rasyidin yang harus kita hormati.

Maka para ahli Ilmu di Makkah dan Madinah tidak begitu mudahnya memfatwa larangan datang umroh. Berapa kerugian Saudi. Fatwa itu hasil berfikir ilmiah yang panjang. Menarik dalil dari berbagai sumber, untuk diuji dan dibahas bersama.

Tapi inilah akar keilmuwan Islam yang terpelihara. Bahwa keilmuwan didalam Islam adalah untuk menjaga kehidupan manusia. Bagi pemimpin muslim, warga daulah bukan deretan angka, tapi insan manusia yang harus dilindungi kehidupannya.

Maka kalo boleh, bagi memang yang berkenan dan menunggu pendapat saya secara pribadi, mari ikuti fatwa para ahli ilmu. InsyaAllah ada yang bertanggung jawab atas fatwa tersebut. Para alim ulama yang duduk di MUI. Mari hargai.

Toh masjidnya gak ditutup. Antum masih boleh sholat Jumat. Itu pilihan antum. Ana juga faham negara ini gak akan bisa maksa apa-apa ke warganya. Faham bener.

Tapi anta jangan hardik fatwa, lalu cemooh konspirasi ke para alim ulama yang menghentikan kajian atau secara fiqh membolehkan sholat Jumat diganti sholat Zuhur. Jangan sampai menggunjing di grup-grup WA, menjelek-jelekan para ulama kita. Gak pantes di situasi seperti ini. Su'ul adab.

Kita siapa. Jika Aa Gym bahkan menutup DT dari kunjungan dan acara. Ustadz Adi Hidayat mengcancel jadwal kajian beliau. Lalu dimanakah posisi kita atas keilmuwan para ulama ini. Hati-hati atuh. Jangan apa-apa konspirasi. Ini hidup mati manusia.

***

Yang kedua tentang lockdown.

Gimana kalo kita kayak Itali. Wajib tinggal di rumah. Kalo keluar bahkan kena hukuman. Polisi berjaga.

Honestly, untuk Indonesia nampak berat. Karena perbandingan petugas dengan warganya juga jauh beda.

Maka tugas kita setidaknya slowdown. Meminjam istilah mas Ainun Najib yang barusan conference di TV. Penggagas Kawal Covid 19. Slowdown.

Keluar rumah kalo gak penting dan urgent, gak usah. Bagus ini. Ngurang-ngurangin mubazir juga. Kumpul keluarga. Bersama anak-anak. Alhamdulillah.

InsyaAllah tetap bisa go food. Mamang go food juga insyaAllah mudah-mudahan aman gak berkerumun. Seperti di Wuhan. Makanan di antar.

Yang biasa ngajar dan ceramah terus, ini bisa jadi momen belajar. Ya memang kan harusnya begitu. Keseimbangan perlu sama sama kita jaga. Bahkan saatnya rampungin buku. Nulis. Merenung.

Untuk bab ini sudah banyak tulisannya. Monggo di baca-baca saja. Key words social distancing.

***

Ada sisi emosional saya dalam menyimak Covid 19.

Alhamdulillah Bapak Mama saya masih ada. Ditengah usia saya yang sudah kepala 3 ini, saya merasa belum membahagiakan Bapak Mama saya. Blass. Belum.

Sedangkan covid sensitif ke orang tua kita. Maka saya empati. Bagi teman-teman yang juga punya orang tua, dan belum juga membahagiakan. Maka tugas bakti anak adalah menjaga orang tua kita semua tetap sehat. Semoga kita sempat menggenggam tangan ayah ibu kita wukuf di Arofah. Thawaf di Makkah. InsyaAllah.

Jumat 13 Maret lalu saya landing di sebuah kota diluar jawa. 14 Maret mulai rame-rame covid, karena Italia merebak. Ahad 15 Maret Jakarta mulai sigap buka berita.

Hari Senin 16 Maret sebenarnya saya jadwal jenguk bapak mama saya. Saya putuskan tidak jenguk. Tanggung jawab sosial. Saya bahkan voice notes bapak mama saya. Ijin gak jenguk.

Dalam 2 pekan terakhir saya banyak safar. Hidup didalam kereta 6-8 jam. Pindah dari stasiun dan bandara. Satu pekan bisa undangan 3 kota.

Alhamdulillah kondisi saya sehat dan tidak menunjukkan symptom apapun. Alhamdulillah. Tapi ada tanggung jawab sosial sebagai orang beriman. Bisa jadi kita carrier.

Maka saya putuskan karantina mandiri. Fokus 14 hari. Gak ke kerumunan. Tahan diri. Bantu viralitasnya mereda

Ini dilakukan banyak anak muda di korsel. Mereka disana langsung cek massal. Yang positif atau negatif nahan diri. Maka Korsel bisa revive cepat.

Kita mah test jelas belum ada fasilitasnya, cukup nahan diri. Pake cara Korsel. Bisa jadi saya carrier. Tanggung jawab ke sesama. Walau sehat dan tidak bergejala.

Pedih ya pedih. Kami mengcancel hampir 8 agenda lebih. Itu tanggung jawab.

Belum lagi tentang latar persaudaraan saya. Saya hanya dua bersaudara. Kakak kandung saya wanita. Kuliah sub spesialis ginjal anak di luar negeri.

Waktu kakak saya PPDS. Pendidikan Dokter Spesialis Anak. Saya yang antar jemput kakak saya ke rumah sakit. Saya melihat didepan mata sendiri, lelah dan gempornya kakak kandung saya. Dah biasa saya parkir depan kamar mayat, duduk nungguin kakak saya, sambil mayat bolak balik didorong.

Kakak saya jaga NICU sampai begadang. Sampai kurus kering beliau rawat pasien. Tekun sekali. Saya nulis ini sedih. Saya lihat sendiri bagaimana tim medis berjuang.

Waktu kakak Saya hamil dan harus bolak balik jaga rumah sakit, beliau sampai harus proteksi vitamin macem-macem. Ya Allah. Sampai hamil pun saja berada pada ancaman virus dan bakteri yang muter-muter di rumah sakit.

Lalu gimana nantinya kalo kita kejadiannya diprediksi kayak Itali. Okelah insyaAllah antum sehat.

Ana nanya yang 20% illnes demam tinggi terus paru-parunya diserang gimana?

Bukan cuma ventilator kita terbatas, bukan cuma bed yang terbatas, tenaga medis kita juga terbatas. Nanti ngerawatnya gimana? Buka volunteer kah? Yang gak pernah belajar pasang infusan suruh jadi perawat? Gitu kah?

Apa kita tega, pasien sampai di lorong-lorong rumah sakit? Apa kita tega perawat kerja double shift? Apa kita tega semua dokter turun begadang, sampai yang lagi co-asst juga harus turun?

Anta sehat, gak ada gejala, masyaAllah. Oke lah. Tapi kalo ternyata carrier, gimana? apa gak dosa kita, jadi carrier tapi malah aktif kemana mana?

Tanggung jawab brosist. Kita netizen punya ilmu, bisa baca mana hoax mana nggak, cari sumber ilmiah valid. Social distancing. Ayo kompak.

Ini malah ngantri nonton bioskop. Berkerumun. Ya Allah. Subhanallah.

Moga ada perubahan ya kedepan.

***

Yang ketiga, asli bikin kesel. Tetep aja ada yang menggunakan momen ini sebagai bullying pada pemimpin negeri. Baik pusat maupun daerah.

Yang gak suka Anies Baswedan habisin Pak Anies. Yang gak suka Pak Jokowi kesempatan nyinyir-nyinyir.

Brosist, masyaAllah. Ane hormati pilihan politik antum semua. Namun di masa genting begini, kualitas kenegarawanan antum semua diuji. Kita lagi diuji.

Tugas kita sekarang bukan komentar. Tapi bergerak. InsyaAllah saya dan tim dakwah sedang persiapkan edukasi dakwah untuk satgas covid di masjid-masjid. Mudah-mudahan ada maslahat.

InsyaAllah di kanal grup WA URS BizNotes, grup pengusaha muslim yang ana kelola ini, ana coba tuliskan beberapa rekomendasi dalam pendekatan people management. Jangan sampai lagi musibah begini malah zalim ke karyawan.

Tugas kita sekarang bergerak. Ngurangin beban negara. Kan sudah sama sama tahu kapasitas pemerintah. Di YouTube nya Om Dedy saat bincang dengan Pak Yuri Kemenkes jelas kok. Ada masalah pada pendekatan rumah sakit swasta melayani pasien. Walau gak semua. Pemerintah sudah terbuka.

Jadi kita yang sama-sama faham kemampuan pemerintah, mari ringankan beban pemerintah.

Kita coba perhatikan skala lingkungan terdekat, mana yang kesulitan akibat dirumahkan. Kita juga sosialisasi, karena kepanikan timbul seakan yang corona pasti mati.

Diedukasi secara objektif. Mengapa perlu social distancing, walau sehat tanpa gejala mengapa harus ambil jarak? Edukasi.

Ini saya simak di beberapa grup WA temanya muter-muter konspirasi. Ya salam.

Ini orang lagi susah. Ekonomi down. Coba kita turun tangan. Bikin pendataan warga. Jaga lingkungan kita. Masjid diaktifkan manajemennya. saling solid satu sama lain.

Maka tentang musuh-musuhan politik, kita harus sudahi. Adapun kritik atas ketelodoran pemerintah di satu dua sisi, ya kita tegur wajar. Pasti ada kurang-kurangnya, tapi janganlah pake syahwat.

***

Yang keempat tentang konspirasi.

Konspirasi itu bisa iya bisa nggak. Wallahualam. Saya gak faham.

Andai virus ini memang dibuat. Senjata biologi atas perang dagang yang gak kunjung selesai. Atau teori mengurangi populasi bumi tiap 100 tahun. Andai apapun itu, makar dan konspirasi Allah tetap lebih dahsyat.

Maka kita sebagai insan beriman, bermohon kepada Allah azza wa jalla.

Konspirasi Yahudi Bani Nadhir atas Rasulullah shallallahu'alaihi wassalam di 4H malah memukul balik Yahudi. Ada di surah Al Hasyr.

Awalnya konspirasi jahat yang direncanakan ke Nabi, namun gagal dan malah memukul kembali diri mereka sendiri.

Kalo ini kezaliman konspirasi, insyaAllah ada perhitungannya, pasti pembuatnya bakal dipukul balik. Bahkan juga gak nyangka bakal kayak gini. kita terus berdoa kepada Allah azza wa jalla. Semoga Allah berpihak pada kebenaran.

***

Yang kelima. Di masa slow down ini, ya kita anggap itikaf mandiri saja. Uzlah. Bismillah.

Minta maaf banyak salah. Banyak mengecewakan. Semoga saling maaf memaafkan menurunkan rahmah.

Mari berharap yang baik untuk negeri. Bapak mama kita. Semua orang tua kita. Kiyai, Romo, sehat-sehat.

Semoga Covid 19 segera reda. Semoga Allah azza wa jalla karuniakan solusi terbaik.

Maaf panjang. Maaf banyak salah kata.

Semoga manfaat untuk yang baca.

Penuh cinta,
URS - IG @ustadzrendy

COMMENTS

Name

dakwah generasi muda Inspirasi kolom keluarga Nasional Pendidikan Politik
false
ltr
item
Nadrasamara: Pandemi Corona; Antara Emosi, Politik, Takdir dan Konspirasi Menghancurkan Sendi-sendi Islam
Pandemi Corona; Antara Emosi, Politik, Takdir dan Konspirasi Menghancurkan Sendi-sendi Islam
https://1.bp.blogspot.com/-XSEsQuJZ8Go/XnGBHmJ4mtI/AAAAAAAACPo/nQYPlkpW9P8LJRqECcWJET511C5kHtkVgCPcBGAYYCw/s1600/pandemi%2Bcorona.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-XSEsQuJZ8Go/XnGBHmJ4mtI/AAAAAAAACPo/nQYPlkpW9P8LJRqECcWJET511C5kHtkVgCPcBGAYYCw/s72-c/pandemi%2Bcorona.jpg
Nadrasamara
https://www.nadrasamara.com/2020/03/pandemi-corona-antara-emosi-politik.html
https://www.nadrasamara.com/
https://www.nadrasamara.com/
https://www.nadrasamara.com/2020/03/pandemi-corona-antara-emosi-politik.html
true
3787071302219627705
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Baca Sekarang Reply Cancel reply Delete oleh Home PAGES POSTS View All BACA WARTA LAINNYA LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago